Berita

Radio Tetap Eksis di Era Medsos, FBS UNP Latih Mahasiswa Teknik Siaran

Radio Tetap Eksis di Era Medsos, FBS UNP Latih Mahasiswa Teknik Siaran
Penyiar RRI Padang, Hasrini Fitria Kamal, menyampaikan materi Pelatihan Penyiaran Radio di Auditorium Lantai 4 FBS UNP, Rabu (21/10). f/Nurauffa

Ganto.co– Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (Basindoda) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP) mengadakan workshop jurnalistik bertajuk Pelatihan Penyiaran Radio. Kegiatan ini menghadirkan penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) Padang, Hasrini Fitria Kamal, di Auditorium Lantai 4 FBS UNP, Rabu (21/10).

Kepala Departemen Basindoda, Zulfadhli, mengatakan workshop jurnalistik kali ini khusus membahas bidang radio, salah satu bagian dari program pelatihan departemen.

"Mudah-mudahan kegiatan ini bermanfaat bagi kita semua, karena radio sampai hari ini tetap menjadi salah satu alternatif media informasi," ujarnya.

Dekan FBS UNP, Ermanto, juga berpendapat bahwa media sosial tidak menggeser radio. Radio kini justru ikut berinovasi di media sosial.

"Walaupun media sosial sekarang banyak, radio sebenarnya tetap eksis. Bahkan radio digabungkan juga dengan media sosial," katanya.

Ia meminta mahasiswa memanfaatkan teknologi untuk mengembangkan diri, termasuk di bidang jurnalistik dan penyiaran.

"Teknologi itu punya kuasa untuk memajukan diri Anda. Jangan hanya mengeluh, tapi manfaatkan," tegasnya.

Dalam materinya, Hasrini menyebut siaran radio adalah bagian dari public speaking. Kemampuan ini penting bagi siapa pun, apa pun profesinya kelak.

"Public speaking itu basic skill yang harus kita miliki saat ini. Kita tidak tahu nanti kalian bekerja di mana," katanya.

Ia menjelaskan, radio punya empat karakter, yaitu auditif, personal, imajinatif, dan fleksibel. Karakter imajinatif dikenal dengan istilah theatre of mind. Penyiar harus memilih kata yang tepat agar pendengar ikut membayangkan.

"Kunci dari radio sebenarnya adalah theatre of mind. Bagaimana orang bisa membayangkan apa yang kita sampaikan," jelasnya.

Ia juga membahas teknik suara. Penyiar perlu berbicara dengan artikulasi jelas dan napas yang teratur. Teknik smile voice membantu suara terdengar ramah jika berbicara sambil tersenyum.

"Coba senyum, lalu ngomong. Suaranya akan berubah jadi ramah. Di studio, tidak akan ada yang merasa aneh lihat kita senyum-senyum sendiri," ujarnya.

Menurutnya, sekitar 80 persen siaran radio berisi lagu. Karena itu, penyiar harus terus memperbarui pengetahuan.

"Penyiar radio harus update. Tidak bisa malas baca, tidak bisa tidak mau tahu itu. Harus banyak baca," tegasnya.

Ia berpesan agar mahasiswa percaya pada suara sendiri dan tidak malas menulis.

"Sekarang tidak ada lagi istilah golden voice. Suara apa pun bisa, jangan dibikin-bikin. Jangan malas menulis naskah, karena itu memang bagian dari jadi penyiar radio," tutupnya.

✔ Standar Jurnalisme & Transparansi SKK Ganto UNP

Berita ini diproduksi dan diverifikasi sesuai dengan Pedoman Pemberitaan Media Siber dan Kode Etik Jurnalistik oleh Dewan Pers.

Nurauffa Febrianti
Jurnalis • Liputan Berita

Redaktur Bahasa Sastra dan Budaya
Diedit & Diverifikasi oleh: Arifa Adila (Pemimpin Redaksi Daring)
✔ Standar EEAT Redaksi

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

6 + 9 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.