Jam dinding di ruang tamu rumah itu selalu terlambat lima menit. Tidak pernah lebih, tidak pernah kurang. Sejak pertama kali digantung, jarumnya bergerak dengan tenang, seolah yakin bahwa ia tidak melakukan kesalahan apa pun.Semua orang di rumah tahu. Tidak ada yang menyangkal. Ibu tahu, ayah tahu, bahkan tamu yang sering datang pun akhirnya menyadari. Tetapi tidak ada yang berusaha membetulkannya.
Setiap pagi, ibu berdiri sebentar di depan jam itu sebelum berangkat kerja. Ia merapikan kerudungnya, mengambil tas, lalu berkata, "Masih ada waktu." Padahal, waktu sebenarnya sudah hampir habis. Anehya, ibu tidak pernah benar-benar terlambat. Ia selalu tiba tepat saat pintu kantor masih terbuka.
Ayah juga mengandalkan jam yang sama. Ia berangkat ke sawah berdasarkan jarum yang bergerak pelan itu. Kadang lebih cepat, kadang sedikit lambat, tetapi pekerjaannya tetap selesai. Tidak ada yang terasa salah. Hanya Raka yang gelisah.Raka anak bungsu. Ia terbiasa membandingkan jam dinding dengan jam di ponselnya. Lima menit. Selalu lima menit. Kesalahan itu terlalu konsisten untuk diabaikan. Menurut Raka, sesuatu yang salah tetaplah salah, meski semua orang sudah menyesuaikan diri.
"Kenapa jamnya nggak dibenerin?" tanya Raka suatu sore.
Ibu tersenyum singkat. "Nanti juga kebiasaan lagi."
Jawaban itu membuat Raka diam. Ia tidak mengerti bagaimana kebiasaan bisa lebih penting dari kebenaran.
Malam itu, ketika rumah sunyi, Raka mengambil bangku kecil. Ia berdiri di depan jam dinding, memutar jarum menit perlahan sampai sejajar dengan waktu yang sebenarnya. Jam itu berdetak seperti biasa. Tidak protes. Tidak menolak.
Pagi berikutnya, kekacauan kecil terjadi.
Ibu terburu-buru dan mengeluh karena waktu terasa sempit. Ayah berangkat terlalu pagi dan menunggu lama di sawah tanpa pekerjaan. Rumah terasa tergesa-gesa, seperti kehilangan ritmenya.
"Jamnya kenapa?" tanya ayah.
Raka tidak menjawab. Ia hanya menunduk.
Tanpa banyak bicara, ayah memutar kembali jarum jam itu lima menit ke belakang. Segalanya kembali seperti semula. Rumah kembali tenang. Tidak ada yang terlambat, tidak ada yang terburu-buru.
Raka duduk di sudut ruang tamu, menatap jam dinding itu. Ia akhirnya mengerti. Di rumah ini, waktu tidak harus tepat. Yang penting, semua orang sepakat untuk merasa nyaman.
Jam dinding terus berdetak, membawa kesalahan kecil yang diterima bersama.
Dan waktu pun berjalan, tanpa pernah benar-benar dibetulkan.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!