Jam lima sore selalu terasa sama. Saya berdiri di perhentian kecil di seberang laut, di mana orang-orang kembali ke rumah dengan langkah cepat dan wajah yang tampak lelah. Setiap hari saya menunggu bus pada jam yang sama, dengan tujuan yang tidak pernah terasa terburu-buru. Pada perhentian ini, saya sering merasa berbeda, seolah-olah hidup saya berjalan lebih lambat daripada yang lain.
Saya mulai membandingkan diri saya dengan orang-orang di sekitar saya. Mereka tampaknya telah melangkah jauh, memiliki arah, memiliki kepastian. Sementara saya masih di halte pada jam lima, menunggu tanpa tahu apakah saya benar-benar menuju ke mana-mana. Perasaan ditinggalkan datang dengan tenang, menempel seperti debu sore.
Suatu sore, ketika bus datang terlambat, saya berdiri sendirian di halte bus. Angin laut bertiup perlahan, dan jalanan mulai sunyi. Pada saat yang tenang itu, saya menyadari bahwa saya tidak berhenti. Setiap hari saya datang, terus menunggu, terus pulang. Kakiku terus melangkah, meskipun tidak secepat yang lain.
Bus akhirnya tiba. Saya naik dan duduk di dekat jendela. Laut perlahan bergerak menjauh, tapi rasanya masih dekat. Saya tersenyum sedikit, menyadari ada sesuatu yang hilang: saya tidak ketinggalan, saya hanya berjalan di jalan saya sendiri, dalam ritme yang saya pilih.
Pada jam lima berhenti, saya belajar bahwa hidup tidak selalu tentang siapa yang sampai di sana lebih dulu. Terkadang, yang paling penting adalah terus berjalan tanpa kehilangan diri sendiri.
Komentar & Tanggapan Pembaca (0)
Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!