Catatan Budaya

Akar

📅 Senin, 9 Desember 2019 17:17 WIB • 👁 3.714 Pembaca
Akar
Akar

Ditilik dari fungsinya, akar adalah bagian yang sangat penting dari tumbuhan. Secara umum akar memiliki fungsi sebagai penyerap air dan mineral dalam tanah yang akan digunakan untuk tumbuh dan berkembang. Sejak mulai dari biji berkecambah, akar yang baru muncul mulai tumbuh dan masuk ke dalam tanah untuk mencari asupan nutrisi.

Pertumbuhan akar disebabkan karena pada ujung akar terdapat jaringan meristem. Jaringan ini memungkinkan akar terus tumbuh menjalar ke dasar tanah dan ke segala arah untuk menemukan air dan mineral.

Banyak hal yang dapat kita pelajari dari akar. Rambut-rambut akar yang awalnya bergerak terus ke dasar tanah dengan maksud untuk mencari makanan, membawa kebaikan tersendiri pada saat usia dewasa tumbuhan tersebut. Akar-akar kecil itu membentuk suatu pola, sehingga akar mengalami perkembangan menjadi akar sejati yang keras. Pola-pola terbentuk membuat tumbuhan menjadi kokoh tertancap di dalam tanah.

Alam takambang jadi guru pepatah Minangkabau yang sering kita dengar ini bisa menggambarkan keadaan ini. Belajarlah dari alam, itulah yang ingin disampaikan oleh para leluhur kita. Dalam kehidupan bermasyarakat kita mengenal adanya hukum pidana, yaitu hukum yang mengatur tata cara kehidupan bermasyarakat.

Akan tetapi ada suatu hukum tidak tertulis yang dekat dalam masyarakat kita, yaitu norma-norma. Ketika kita melanggar norma tersebut, maka akan mendapat ganjaran berbentuk sanksi sosial. Oleh sebab itu, pengetahuan norma seperti budaya malu dan sopan santun diajarkan kepada seorang anak sejak di usia dini, baik dalam lingkungan keluarga, teman permainan, maupun lingkungan sekitar.

Ibaratkan akar maka pengetahuan tentang norma ini harus tertancap kokoh dalam diri kita, sehingga kita memiliki pribadi yang baik dalam bermasyarakat serta bisa mengimplementasikan dan mengajarkannya pada yang lain. Selain itu kemana pun kita melangkah di muka bumi ini bisa membawanya.

Namun dewasa ini, hedonisme telah menggeser tatanan hidup kita. Kebebasan yang tidak bertanggung jawab pun marak terjadi. Miris rasanya melihat orang-orang besar di kota yang tertangkap basah telah mengambil hak rakyat dengan santainya tersenyum di depan awak media saat ia telah resmi didakwa bersalah.

Selain itu ada juga orang-orang pintar yang malah meninggalkan etika. Tidak ada lagi rasa malu setelah melakukan kesalahan. Ketika kejadian ini terjadi, hal yang paling ditakutkan adalah tidak adanya rasa bersalah dari pelaku dan norma-norma tersebut tidak lagi diindahkan, maka kejahatan akan kembali terjadi karena tidak adanyanya efek jera.

Di waktu yang sama dan keadaan yang berbeda, jauh dari hiruk pikuk kota, saat seseorang ketahuan maling ayam maka masyarakat berbondong-bondong mengarak pelaku ke jalan agar timbul rasa malu dan jera supaya tidak mengulangi tindakannya. Ini merupakan sanksi sosial yang diberikan dan terbukti ampuh dalam masyarakat, sehingga menjadi contoh bagi masyarakat yang lain supaya tidak melanggar norma. Hal ini karena mereka sama-sama memahami apa itu budaya malu yang telah diajarkan di usia dini.

Jangan kita biarkan norma-norma itu mati. Tanpa norma kita layaknya seorang primitif yang tidak peduli dan tidak tahu mana yang baik dan tidak serta mengagungkan kebebasan diri, entah itu secara sadar atau tidak sengaja akan merampas hak-hak orang lain. Jika dibiarkan berlarut, tidak bisa ditelak lagi kejahatan hak asasi akan mengancam tatanan kehidupan bermasyarakat.

Seperti halnya akar, budaya merupakan norma yang akan tetap hidup selama kita masih menjaganya. Pendidikan dini merupakan hal yang paling utama, bagaimana norma tersebut ditanam dalam hati seorang anak dan bagaimana membentuk polanya. Apakah ia akan menjalar ke segala arah atau hanya bertengger di dasar tanah saja. Tampak bagaimana pentingnya pendidikan dini menjadi bekal kita untuk terus kokoh memegang prinsip kehidupan yang diajarkan alam, sehingga norma mengakar dalam diri kita.

✔ Standar Integritas & Transparansi Opini SKK Ganto UNP

Setiap karya tulisan, kolom, dan opini yang diterbitkan merupakan pandangan orisinal penulis serta telah melalui proses kurasi dan penyuntingan redaksi sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber.

Komentar & Tanggapan Pembaca (0)

Belum ada komentar untuk konten ini. Jadilah yang pertama menyampaikan opini atau apresiasi Anda!

Tinggalkan Komentar Anda

Komentar Anda akan langsung tampil setelah verifikasi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.

5 + 4 = ?
Perhitungan matematika dasar untuk mencegah spam bot otomatis.